Pada abad
ke-8, para seniman bangsa Indonesia telah mencoba memvisualkan mitologi tentang
kalpataru dalam bentuk relief di Candi Mendut. Dalam mitologinya, kalpataru
disebutkan sebagai pohon kehidupan atau pohon hayati. Siapapun yang memakan
buah pohon kalpataru, maka dia akan bisa hidup abadi. Dari mitologi inilah
kemudian pemerintah Indonesia melalui Kementerian Lingkungan Hidup pada 1982
menggali makna kalpataru dan merekontekstualisasinya sebagai pesan untuk
pelestarian lingkungan hidup. Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (Walhi)
kemudian memperoleh ide untuk logo organisasinya dari relief kalpataru di Candi
Mendut. Terkait dengan pelestarian lingkungan, para tokoh intelektual Bali juga
telah merumuskan konsep Tri Hita Karana yang bermakna universal. Secara
filosofi, Tri Hita Karana menyangkut hubungan manusia dengan Tuhannya, manusia
dengan sesamanya, manusia dengan mahluk lain dan alam lingkungannya.
MENJELANG akhir abad ke-20, para ahli dan
peneliti lingkungan menemukan adanya "lubang" pada lapisan ozon di
antariksa kutub selatan, kutub utara, dan pengikisan lapisan ozon di atmosfir
Eropa timur, sebagian penduduk di bumi pun mulai cemas terhadap akan terjadinya
pemanasan global.
Menghadapi
masalah ini, para desainer di seluruh dunia yang terhimpun dalam berbagai
organisasi profesi sesuai dengan wilayahnya, kemudian membuat kesepakatan dalam
mendesain harus memperhatikan ketentuan yang disebut "Green Code of Engineers".
Maksud kesepakatan ini adalah agar para desainer dalam membuat desain selalu
memperhatikan lingkungan hidup dan pemeliharaan alam. Dalam mewujudkan
desainnya, mereka diharapkan menggunakan bahan-bahan imitasi atau yang bisa
didaur ulang, demi keselamatan alam dan hutan tropis.
Karena itu,
Himpunan Desainer Interior Indonesia yang tergabung dalam Asosiasi Masyarakat
Desain Wilayah Asia Pasifik (APSDA) juga wajib menjaga keselamatan alam dan
hutan tropis Indonesia. Agar tidak terlalu banyak mengganggu masalah
lingkungan, maka para desainer interior diharapkan lebih menekankan "unsur
manusiawi" dalam perancangannya. Sebab, rancangan ruang memang seharusnya
lebih memikirkan manusia sebagai penggunanya.
Dalam
kongres APSDA d Tanah Lot awal Oktober 2000, diangkatlah tema "Humanizing
the Space". Dengan tema ini, diharapkan setiap desainer interior dalam
berkarya wajib memberikan sentuhan manusiawi pada ruang hunian manusia.
Sentuhan manusiawi ini antara lain dapat diwujudkan dalam pemilihan warna ruang
yang sangat berkaitan dengan masalah psikologis manusia -- pengguna ruang
tersebut.
Arsitektur
Biologis
Salah satu
upaya agar rancang bangun sebuah karya arsitektur senantiasa memperhatikan
aspek lingkungan dan dapat meningkatkan kualitas kehidupan adalah konsep
arsitektur biologis. Istilah arsitektur biologis diperkenalkan oleh beberapa
ahli bangunan, antara lain Prof. Mag.arch, Peter Schmid, Rudolf Doernach dan
Ir. Heinz Frick. Arsitektur biologis berarti ilmu penghubung antara manusia dan
lingkungannya secara keseluruhan. Arsitektur biologis mempelajari pengetahuan
tentang hubungan integral antara manusia dan lingkungan hidup.
Ribuan tahun
lamanya manusia telah berjuang untuk menguasai alam. Jiwa dan raganya tidak
jarang dipertaruhkan. Setidak-tidaknya kini manusia telah mulai menguasai alam
lewat bantuan teknologi. Teknologi modern merupakan alat yang dengan cepat
dapat membantu mensejahterakan kehidupan manusia, dibandingkan teknologi di
abad-abad sebelum terjadinya revolusi industri. Proses biologis dianggap
terlalu lamban untuk bisa mensejahterakan kehidupan. Namun, teknologi modern
ternyata menimbulkan efek-efek samping yang bersifat biologis, psikologis,
maupun ekologis. Semua itu nantinya bisa menimbulkan ancaman bagi alam dan
membahayakan kehidupan.
Di sinilah
pentingnya pemahaman pengetahuan arsitektur dan lingkungan, yang bisa
menyadarkan setiap insan untuk berpikir secara baru. Arsitektur dan pembangunan
perumahan haruslah menuju keselarasan hubungan manusia, alam dan lingkungan
hidupnya. Dalam hal ini, arsitektur biologis akan mempergunakan teknologi
alamiah untuk menetrasi keadaan kritis alam yang sudah mulai terancam.
Melalui
konsep arsitektur biologis, para arsitek diajak memahami rumah sebagai sebuah
bangunan organis, untuk meningkatkan kualitas kehidupan. Kualitas bangunan
dengan bagian-bagian material dan rohani menentukan kualitas lingkungan hidup
manusia. Bahan-bahan bangunan yang digunakan dalam mewujudkan arsitektur
biologis adalah bahan-bahan bangunan dari alam. Bahan bangunan alam yang dapat
dibudidayakan lagi, digunakan dalam arsitektur biologis, seperti kayu,
bambu, rumbia, alang-alang dan ijuk. Bahan bangunan alamiah yang dapat
digunakan lagi menjadi bangun alamiah yang dapat digunakan lagi menjadi bangun
arsitektural adalah tanah liat, tanah lempung dan batu alam. Sedangkan bahan
bangunan alam yang diproses pabrik atau industri adalah batu artifisial yang
dibakar (batu merah), genting flam, genting pres dan batu-batuan pres (batako).
Perencanaan
arsitektur biologis senantiasa memperhatikan konstruksi yang sesuai dengan
tempat bangunan itu berada. Teknologinya sederhana, bentuk bangunannya pun
ditentukan oleh fungsi menurut kebutuhan dasar penghuni dan cara membangunnya.
Bentuk bangunan ditentukan oleh rangkaian bahan bangunannya. Konstruksi
bangunan yang digunakan ada yang bersifat masif (konstrtuksi tanah, tanah liat
dan lempung), berkotak (konstruksi batu alam dan batu-batu merah), serta
konstruksi bangunan rangka (kayu dan bambu). Atas dasar pengetahuan tentang
bahan bangunan tersebut, akhirnya tercipta bentuk-bentuk bangunan yang
berkaitan dengan sejarah arsitektur.
Arsitektur
Tradisional
Arsitektur
tradisional merupakan contoh dari arsitektur biologis. Arsitektur ini
mencerminkan suatu cara kehidupan harmonis, asli, ritmis dan dinamis, terjalin
antara kehidupan manusia dan lingkungan sekitar secara keseluruhan. Arsitektur
tradisional dibangun dengan cara yang sama dari generasi ke generasi
berikutnya. Arsitektur ini cocok dengan iklim daerah setempat dan masing-masing
suku bangsa di Indonesia rupanya telah memiliki arsitektur tradisional.
Bentuk awal
rumah bangsa Indonesia pada zaman dulu kiranya masih dapat dilihat di
daerah-daerah pedalaman, seperti di Irian Jaya (Papua). Arsitektur yang
dimiliki suku Korowai di Merauke misalnya, meskipun dibangun di atas pohon,
tetapi kehidupan dan perencanaan bangunan suku ini selaras dengan alam. Mereka
masih menggunakan peralatan dari batu karang dan kayu. Rumah yang dibangun di
atas pohon ini paling tidak menghabiskan waktu 2 tahun untuk penyelesaiannya,
dan bisa menampung 4-5 keluarga. Dinding rumah dibuat dari pelepah daun nipah,
pohon penghasil sagu. Alas rumah dari kulit kayu balsa yang diserut dengan
pisau karang.
Bentuk
perkampungan dan perumahan di Bali juga mencerminkan suatu cara kehidupan
harmonis antara manusia dan alam. Bentuk bangunannya disesuaikan dengan fungsi
dan aktivitas penghuni. Bahan-bahan bangunannya berasal dari bahan alami dan
dibentuk dengan bantuan konstruksi yang memperhatikan iklim setempat.
Ahli biologi
dan arsitek Rudolf Doernach kelahiran Stuttgart-Jerman, melihat ada
kecenderungan dan dorongan kuat, bahwa setiap negara di dunia kini berusaha
membangun permahan dan kota masa depan yang memperhatikan masalah penyelamatan
lingkungan. Pengotoran udara oleh industri dan kepadatan penduduk di perkotaan,
sangat menghantui banyak negara di dunia. Arsitektur biologis adalah alternatif
untuk memperingan kerusakan lingkungan akibat kemajuan teknologi. Disarankan,
pembangunan lingkungan harus terdiri dari dinding dan atap hidup yang
menyediakan oksida dan energi.
Pendidikan
arsitektur barat sebenarnya kurang tepat diterapkan di negara-negara berkembang
seperti Indonesia yang memiliki latar belakang kebudayaan berbeda-beda. Karena
itu, arsitektur biologis lebih mudah berkembang di Indonesia. Arsitektur barat
modern yang dibangun dengan teknologi tinggi, lebih sering merusak dasar
kehidupan manusia dan lingkungan alamnya.
Arsitektur
biologis pada dasarnya dibangun dari pembangunan yang bersifat biologis dan
berakhir pada pemikiran baru yang lebih mendalam. Dia bersifat ekologis,
alternatif dan tertuju kepada masa depan dengan kehidupan, pendidikan dan
pemukiman yang seimbang dengan alam.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar