Selasa, 31 Januari 2017

Sirkulasi Pengunjung Pada Stasiun Serpong

Sirkulasi,  sirkulasi menurut Kim W. Todd mempunyai pengertian yaitu gerakan dari orang - orang atau  benda - benda yang diperlukan oleh orang - orang melalui sebuah tapak.
Sirkulasi menggambarkan sebua pola pergerakan, baik kendaraan maupun pejalan kaki diatas dan disekitar tapak yang berpengaruh terhadap lamanya dan beban puncak bagi lalu lintas kendaraan dan pergerkan pejalan kaki. Sirkulasi merupakan gerak terusan ruang. Jalan sirkulasi diartikan sebagai tali yang terlihat menghubungkan ruang - ruang dalam maupun ruang luar, oleh karena itu kita bergerak dalam waktu melalui tahapan dari ruang. 


            Stasiun kereta api Serpong sendiri berada di, Jalan Stasiun Serpong No. 1, Kecamatan dan Kelurahan Serpong, kota Tangerang Selatan, Banten. Stasiun ini melayani perjalanan kereta perjalanan kereta Jakarta – Merak, kereta Langsam tujuan Rangkasbitung, juga yang terutama perjalanan Commuter Line Jabodetabek. Bentuk bangunan stasiun yang saat ini merupakan hasil dari renovasi yang diresmikan oleh Presiden RI saat itu, Bapak Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 4 juli 2007.


            Di area stasiun ini terdiri atas 2 peron kereta, loket kereta, area tunggu yang di lengkapi dengan 2 buah toko retail, toilet, mushala, dan pastinya area parkir. Loket untuk pembelian tiket berada di lantai 2, sedangkan di lantai 1 merupakan area kantor.


            Untuk sirkulasi pengunjung yang akan menggunakan jasa layanan kereta api di stasiun ini, pengunjung yang datang harus menuju ke lantai dua dengan menggunakan tangga untuk membeli tiket. Kemudian pengunjung mengantri membeli tiket dan setelah memiliki tiket, pengunjung dapat masuk ke area tunggu melewati sistem taping pada gate. Setelah itu pengunjung menuruni tangga untuk menuju peron.


            Bagi sebagian masyarakat terutama lansia dan kaum difabel pengguna jasa kereta di stasiun ini, sirkulasi seperti dirasa cukup menyulitkan dan melelahkan. Para lansia dan kaum difabel menginginkan adanya sirkulasi yang mempermudah untuk mereka yang sulit untuk naik turun tangga, meski terkadang memang ada perlakuan khusus untuk kaum difabel pengguna kursi roda.Namun, tak semua merasa nyaman dengan sirkulasi seperti ini. Beberapa pengunjur justru senang dengan sistem ini yang memaksa mereka naik turun tangga, ini membuat mereka menjadi tidak malas, “itung-itung olahraga” kata mereka.
            Bagi saya, sirkulasi pengunjung seperti yang terdapat di stasiun Serpong memang cukup membuat masyarakat menjadi tidak malas untuk memulai aktifitas, namus harus adanya jalur sirkulasi khusus untuk kaum lansia dan kaum difabel yang memudahkan mereka dalam menggunakan jasa angkutan kereta api. Karena seperti yang kita ketahui bersama, kereta api merupakan mode transpotasi masal yang paling diminata pada masa sekarang ini. Jadi untuk itu mesti adanya kemudahan untuk semua lapisan masyarakat tak terkecuali para lansia dan kaum difabel.