Sirkulasi,
sirkulasi
menurut Kim W. Todd mempunyai pengertian yaitu gerakan dari orang - orang
atau benda - benda yang diperlukan oleh orang - orang melalui sebuah
tapak.
Sirkulasi menggambarkan sebua pola pergerakan, baik
kendaraan maupun pejalan kaki diatas dan disekitar tapak yang berpengaruh
terhadap lamanya dan beban puncak bagi lalu lintas kendaraan dan pergerkan
pejalan kaki. Sirkulasi merupakan gerak terusan ruang. Jalan sirkulasi
diartikan sebagai tali yang terlihat menghubungkan ruang - ruang dalam maupun
ruang luar, oleh karena itu kita bergerak dalam waktu melalui tahapan dari
ruang.
Stasiun kereta api Serpong sendiri
berada di, Jalan Stasiun Serpong
No. 1, Kecamatan dan Kelurahan Serpong, kota Tangerang Selatan, Banten. Stasiun
ini melayani perjalanan kereta perjalanan kereta Jakarta – Merak, kereta
Langsam tujuan Rangkasbitung, juga yang terutama perjalanan Commuter Line
Jabodetabek. Bentuk bangunan stasiun yang saat ini merupakan hasil dari
renovasi yang diresmikan oleh Presiden RI saat itu, Bapak Susilo Bambang
Yudhoyono pada tanggal 4 juli 2007.
Di area
stasiun ini terdiri atas 2 peron kereta, loket kereta, area tunggu yang di
lengkapi dengan 2 buah toko retail, toilet, mushala, dan pastinya area parkir.
Loket untuk pembelian tiket berada di lantai 2, sedangkan di lantai 1 merupakan
area kantor.
Untuk
sirkulasi pengunjung yang akan menggunakan jasa layanan kereta api di stasiun
ini, pengunjung yang datang harus menuju ke lantai dua dengan menggunakan
tangga untuk membeli tiket. Kemudian pengunjung mengantri membeli tiket dan
setelah memiliki tiket, pengunjung dapat masuk ke area tunggu melewati sistem taping pada gate. Setelah itu pengunjung
menuruni tangga untuk menuju peron.
Bagi
sebagian masyarakat terutama lansia dan kaum difabel pengguna jasa kereta di
stasiun ini, sirkulasi seperti dirasa cukup menyulitkan dan melelahkan. Para
lansia dan kaum difabel menginginkan adanya sirkulasi yang mempermudah untuk
mereka yang sulit untuk naik turun tangga, meski terkadang memang ada perlakuan
khusus untuk kaum difabel pengguna kursi roda.Namun, tak semua merasa nyaman
dengan sirkulasi seperti ini. Beberapa pengunjur justru senang dengan sistem
ini yang memaksa mereka naik turun tangga, ini membuat mereka menjadi tidak
malas, “itung-itung olahraga” kata mereka.
Bagi
saya, sirkulasi pengunjung seperti yang terdapat di stasiun Serpong memang
cukup membuat masyarakat menjadi tidak malas untuk memulai aktifitas, namus
harus adanya jalur sirkulasi khusus untuk kaum lansia dan kaum difabel yang
memudahkan mereka dalam menggunakan jasa angkutan kereta api. Karena seperti
yang kita ketahui bersama, kereta api merupakan mode transpotasi masal yang
paling diminata pada masa sekarang ini. Jadi untuk itu mesti adanya kemudahan
untuk semua lapisan masyarakat tak terkecuali para lansia dan kaum difabel.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar