Minggu, 20 Oktober 2013

Percampuraan Budaya di Masyarakat

Percampuran budaya atau sering disebut akulturasi budaya dan atau asimilasi budaya. Akulturasi adalah suatu proses sosial yang timbul manakala suatu kelompok manusia dengan kebudayaan tertentu dihadapkan dengan unsur dari suatu kebudayaan asing. Kebudayaan asing itu lambat laun diterima dan diolah ke dalam kebudayaannya sendiri tanpa menyebabkan hilangnya unsur kebudayaan kelompok itu sendiri. Sedangkan, asimilasi adalah pembauran dua kebudayaan yang disertai dengan hilangnya ciri khas kebudayaan asli sehingga membentuk kebudayaan baru. Suatu asimilasi ditandai oleh usaha-usaha mengurangi perbedaan antara orang atau kelompok. Untuk mengurangi perbedaan itu, asimilasi meliputi usaha-usaha mempererat kesatuan tindakan, sikap, dan perasaan dengan memperhatikan kepentingan serta tujuan bersama.
Sumber: wikipedia

Contoh-contoh percampuran budaya di Indonesia di antaranya:
1. Seni Bangunan
Dapat dilihat dari tampak pada bangunan candi sebagai wujud percampuran antara seni asli bangsa Indonesia dengan seni Hindu-Budha. Candi merupakan bentuk perwujudan akulturasi budaya bangsa Indonesia dengan India. Candi merupakan hasil bangunan zaman megalitikum yaitu bangunan punden berundak-undak yang mendapat pengaruh Hindu Budha. Contohnya candi Borobudur. Pada candi disertai pula berbagai macam benda yang ikut dikubur yang disebut bekal kubur sehingga candi juga berfungsi sebagai makam bukan semata-mata sebagai rumah dewa. Sedangkan candi Budha, hanya jadi tempat pemujaan dewa tidak terdapat peti pripih dan abu jenazah ditanam di sekitar candi dalam bangunan stupa.
2. Berpakaian
 Pakaian Adat Betawi, orang Betawi pada umumnya mengenal beberapa macam pakaian. Namun yang lazim dikenakan adalah pakaian adat berupa tutup kepala (destar) dengan baju jas yang menutup leher (jas tutup) yang digunakan sebagai stelan celana panjang Melengkapi pakaian adat pria Betawi ini, selembar kain batik dilingkari pada bagian pinggang dan sebilah belati diselipkan di depan perut. Para wanita biasanya memakai baju kebaya, selendang panjang yamg menutup kepala serta kain batik. Pada pakaian pengantin, terlihat hasil proses asimilasi dart berbagai kelompok etnis pembentuk masyarakat Betawi. Pakaian yang digunakan pengantin pria, yang terdiri dari: sorban, jubah panjang dan celana panjang banyak dipengaruhi oleh kebudayaan Arab. Sedangkan pada pakaian pengantin wanita yang menggunakan syangko (penutup muka), baju model encim dan rok panjang memperlihatkan adanya pengaruh kebudayaan Cina Uniknya, terompah (alas kaki) yang dikenakan oleh pengantin pria dan wanita dipengaruhi oleh kebudayaan Arab.
3. Makanan
 Di Aceh, makanan sudah banyak menggunakan bumbu masak dari timur tengah. Makanan khas daerahnya pun merupakan hasil percampuran budaya yang berasal dari budaya negara-negara Timur Tengah, terutama dari daerah India.

Ketiganya diatas merupakan beberapa contoh percampuran budaya yang masuk ke Indonesia. Masih banyak lagi contoh percampuran budaya di Indonesia yang terlalu banyak untuk di sebutkan.

Dampak Percampuran Budaya
 
1. Dampak positif
Dampak positif dari percampuran  budaya yaitu kita dapat mengetahui dan mempelajari budaya dari luar yang dapat menambah wawasan kita. Dampak positif lainnya yaitu mempermudah untuk memperkenalkan budaya kita ke dunia luar.Percampuran budaya ini pula dapat menciptakan budaya baru yang unik.
2. Dampak negatif
Dampak negatif dari percampuran budaya yaitu dapat menghilangkan kebudayaan asli yang dimiliki Indonesia, selain itu budaya asing yang masuk secara berlebihan membuat generasi muda lebih menyukai budaya asing yang sifatnya sangat negatif dan dapat melunturkan jatidiri sebagai bangsa Indonesia. Dampak lainnya bisa membuat masyarakat bersikap individualis,karena budaya barat mencontohkan untuk bersifat individu.
 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar